BANKING

Waspada! Marak Serangan Siber Hantam Bank di Eropa dan Asia

Nia Deviyana 08/11/2026 21:23 WIB

Pakar keamanan siber mengatakan meski serangan merupakan hal yang umum terjadi, pencurian uang secara digital langsung dari sebuah bank tergolong tidak biasa.

Waspada! Marak Serangan Siber Hantam Bank di Eropa dan Asia. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Bank asal Prancis, Credit Mutuel Arkea, pada Kamis (5/11/2026) mengatakan bahwa peretas telah mencuri dana sekitar 100 juta euro dalam aksi pembobolan siber. 

Melansir Reuters, Bank tersebut tengah berupaya memulihkan dana yang dicuri. Kasus ini tergolong langka karena pelaku kejahatan siber berhasil mencuri uang secara langsung dari bank konvensional.

Serangan siber yang diumumkan pada Rabu tersebut terjadi setelah pencurian aset kripto senilai USD6,3 miliar dari Binance pada pekan lalu, serta gelombang serangan siber yang menargetkan kulkas yang terhubung ke internet di Eropa. Jaksa Prancis mengatakan tengah menyelidiki kasus pencurian tersebut.

Dalam pernyataannya pada Rabu, Credit Mutuel Arkea mengatakan para pelaku menggunakan rekening milik bank untuk melakukan transaksi penipuan.

Bank menegaskan dana yang dicuri bukan dalam bentuk mata uang kripto, tetapi kemungkinan telah dikonversi menjadi aset kripto setelah dicuri.

Credit Mutuel Arkea untuk sementara menghentikan sejumlah transaksi sebagai langkah pencegahan. Kebijakan tersebut menyebabkan keterlambatan pada beberapa transfer, tetapi bank memastikan aset nasabah tidak terdampak.

Seorang juru bicara membantah pemberitaan media yang menyebut anak usaha perbankan digitalnya, Fortuneo, sebagai pintu masuk serangan tersebut. Dia menegaskan bahwa baik divisi tersebut maupun rekening nasabahnya tidak terlibat dalam insiden itu.

Pakar keamanan siber mengatakan kepada Reuters bahwa meskipun serangan siber merupakan hal yang umum terjadi, pencurian uang secara digital langsung dari sebuah bank tergolong tidak biasa.

CEO perusahaan keamanan siber dan rekayasa keamanan RedSecLabs, Rafay Baloch, mengatakan serangan terhadap Credit Mutuel merupakan kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya di Eropa.

“Kami melihat banyak serangan canggih yang menargetkan lapisan aplikasi (application layer), serta serangan rekayasa sosial (social engineering) yang semakin canggih terhadap lembaga perbankan,” ujarnya.

Prancis Buka Penyelidikan

Kantor Kejaksaan Paris mengatakan unit kejahatan sibernya menerima laporan dari Credit Mutuel Arkea pada Rabu dan langsung membuka penyelidikan yang dipimpin oleh kepolisian Prancis khusus kejahatan siber.

Juru bicara Credit Mutuel Arkea menolak mengungkapkan identitas penyedia layanan pihak ketiga yang platformnya digunakan dalam serangan tersebut. Dia mengatakan bank telah memberitahukan insiden itu kepada Bank Sentral Eropa (ECB), otoritas pengawas perbankan Prancis, serta kejaksaan. Sementara itu, regulator perbankan Prancis, ACPR, menolak berkomentar.

Meskipun peretasan yang berhasil menargetkan lembaga keuangan besar tergolong jarang, regulator keuangan di berbagai negara telah meningkatkan peringatan mengenai risiko serangan siber, terutama seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI).

“Setiap kali terjadi serangan terhadap sistem keuangan, hal itu merupakan masalah besar,” kata Managing Director Nardello & Co di Paris, Puneet Kakkar.

Credit Mutuel Arkea yang berbasis di Brittany, Prancis, merupakan kelompok perbankan koperasi dengan lebih dari 5,8 juta nasabah dan aset senilai 211,5 miliar euro. Bank tersebut merupakan bagian dari jaringan perbankan Credit Mutuel yang lebih luas dan berafiliasi dengan badan pusat jaringan tersebut, tetapi tetap memiliki otonomi strategis yang signifikan.

Kakkar mengatakan bank-bank Prancis umumnya memiliki sistem keamanan siber yang kuat berkat persyaratan regulasi. Meski demikian, dia menilai, para pelaku kejahatan siber semakin kreatif.

Pada 2016, peretas mencuri dana USD81 juta dari rekening bank sentral Bangladesh di Federal Reserve Bank of New York. Dana senilai jutaan dolar juga sebelumnya pernah dicuri dari sejumlah bank di Rusia dan India melalui serangan siber, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Keresahan yang sama juga terjadi di Asia. Bank SinoPac di Taiwan pada Rabu mengatakan peretas eksternal mengeksploitasi pengaturan keamanan dalam sistem transaksi perbankan online barunya untuk mentransfer uang dari rekening nasabah tanpa izin.

Sejumlah nasabah melaporkan adanya transfer sebesar 100.000 dolar Taiwan pada Selasa. Bank tersebut kemudian mengatakan sebanyak 418 nasabah terdampak oleh 427 transaksi dengan nilai masing-masing berkisar antara 10.000 hingga 100.000 dolar Taiwan.

Total dana yang ditransfer mencapai 41,76 juta dolar Taiwan. SinoPac mengatakan telah mengganti seluruh dana yang ditransfer serta biaya transaksi kepada nasabah yang terdampak.

Bank tersebut mengatakan para peretas mengeksploitasi pengaturan keamanan yang dikonfigurasi oleh pemasok sistem. SinoPac menyebut tidak ada lembaga keuangan lain di Taiwan yang menggunakan sistem transaksi serupa. Sistem tersebut dipasok oleh vendor luar negeri yang dikenal luas. Bank juga mengatakan bukti yang dikumpulkan sejauh ini tidak menunjukkan adanya indikasi kebocoran data nasabah.

SinoPac menonaktifkan aplikasi mobile banking barunya dan melibatkan perusahaan keamanan siber eksternal untuk membantu menyelidiki insiden serta memeriksa sistemnya. Bank juga mengatakan akan menuntut ganti rugi dari vendor pemasok sistem tersebut.

Penyidik menangani kasus ini sebagai dugaan tindak pidana terhadap keamanan komputer berdasarkan Bab 36 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Taiwan. Polisi menelusuri rekening penerima transfer dan menemukan bahwa rekening tersebut milik seorang pria berusia 70-an tahun yang tinggal di Taipei.

General Manager Bank SinoPac Chuang Ming-fu mengatakan insiden tersebut telah merusak reputasi bank meskipun seluruh dana nasabah telah diganti. Dia mengatakan bank akan memperkuat langkah-langkah keamanan sibernya untuk mencegah insiden serupa terulang.

(NIA DEVIYANA)

SHARE