BANKING

OJK Siap Kawal Transformasi Besar Perbankan Syariah, Mulai dari Spin Off hingga Merger

Rohman Wibowo 18/10/2026 04:04 WIB

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan industri perbankan syariah nasional bersiap menyambut gelombang aksi korporasi besar.

OJK Siap Kawal Transformasi Besar Perbankan Syariah, Mulai dari Spin Off hingga Merger. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan industri perbankan syariah nasional bersiap menyambut gelombang aksi korporasi besar, mulai dari pemisahan unit usaha syariah (spin-off UUS) hingga penggabungan usaha atau merger antarbank.

Langkah strategis ini dipacu untuk menciptakan bank-bank umum syariah baru dengan skala usaha jumbo yang mampu mengimbangi dominasi perbankan konvensional di pasar keuangan domestik.

Regulator terus mematangkan peta jalan konsolidasi untuk melahirkan entitas perbankan syariah dengan kapasitas bisnis yang ekspansif. Aksi pemisahan unit bisnis tersebut tidak hanya berdiri sendiri, melainkan dirancang bermuara pada penggabungan kekuatan antar-pelaku industri.

"OJK berkomitmen dalam mengawal transformasi tersebut. Sejalan dengan RP3SI 2023-2027, OJK mendorong konsolidasi melalui spin-off UUS yang dimungkinkan pula diikuti oleh penggabungan usaha dengan bank syariah lain demi menghadirkan bank syariah yang sehat dan berskala lebih besar," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam jawaban tertulis, dikutip Minggu (18/10/2026).

Menurut dia, dorongan konsolidasi ini mengemuka di tengah laju ekspansi aset perbankan syariah yang terus mencatatkan kinerja positif sepanjang periode 2023 hingga 2025.

Data OJK mencatat, aset perbankan syariah melonjak dari Rp892,17 triliun pada 2023 menjadi Rp980,30 triliun pada 2024. Tren pertumbuhan berlanjut hingga menembus tonggak bersejarah di atas seribu triliun, yakni mencapai Rp1.067,73 triliun pada penutupan 2025 dengan pangsa pasar aset terkerek di kisaran 7,7 persen.

Momentum pertumbuhan aset tersebut dinilai perlu diimbangi dengan perombakan kelembagaan agar perbankan syariah tidak terfragmentasi dalam skala usaha kecil. Otoritas meyakini pelepasan unit usaha yang tengah bergulir saat ini akan mencetak Bank Umum Syariah (BUS) baru dengan daya jelajah finansial yang mumpuni.

Dian menjelaskan, lahirnya bank syariah berukuran besar merupakan kunci penguatan fondasi industri secara jangka panjang. "Diharapkan proses spin-off yang saat ini sedang berjalan nantinya menghasilkan BUS dengan kapasitas yang cukup besar, sehingga menegaskan komitmen OJK memperkuat struktur industri perbankan syariah," ujar Dian.

Tantangan utama bank syariah saat ini terletak pada ketatnya persaingan dengan konglomerasi bank konvensional yang telah lama mengakar kuat di pasar. Tanpa injeksi permodalan yang berkesinambungan, bank syariah diproyeksikan bakal tertinggal dalam memperebutkan kue pembiayaan komersial dan korporasi berskala besar.

Oleh karena itu, regulator menekankan urgensi pembentukan efisiensi biaya operasional melalui permodalan yang tebal. "Penguatan permodalan secara berkesinambungan diharapkan dapat mencapai economies of scale yang lebih memadai agar bank syariah lebih kompetitif dan resilien menghadapi bank-bank yang sudah mature dan berskala besar," katanya.

Untuk merealisasikan target arsitektur perbankan syariah yang berdaya saing, kata dia, otoritas kini mengintensifkan komunikasi dengan para pemegang saham pengendali. Para pemilik modal didorong mengambil keputusan strategis untuk menyuntikkan modal segar maupun menggabungkan entitas bisnis mereka.

Dian menegaskan, percepatan ini membutuhkan kesamaan visi dari para investor perbankan di tanah air. "Saat ini OJK terus mendorong pemegang saham melakukan penguatan struktur melalui konsolidasi dan peningkatan permodalan guna mengakselerasi bank syariah dan UUS yang lebih berdaya saing di industri perbankan nasional," kata Dian.

(Dhera Arizona)

SHARE