Gubernur BI Sebut Kenaikan Suku Bunga Berisiko Tekan Pertumbuhan Ekonomi
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 22-23 September 2026 mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen.
IDXChannel - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut, kenaikan suku bunga acuan berisiko menekan pertumbuhan ekonomi nasional.
Karena itu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 22-23 September 2026 mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen meski Federal Reserve (The Fed) mengerek suku bunga acuannya.
"Nah kemudian, jadi itu yang paling juga, kenapa mau nggak mau memang kita harus selalu mengkombinasikan kebijakan itu, karena pertumbuhan tetap menjadi concern kita karena mandat kita kan bertambah," kata Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (28/9/2026).
Destry menambahkan dalam menentukan arah kebijakan moneter, BI menjadikan inflasi sebagai salah satu jangkar utama. Di mana perkembangan inflasi saat ini masih berada dalam level yang dapat diterima BI.
Inflasi inti (core inflation) juga masih berada di kisaran 2 persen, sementara inflasi umum (headline inflation) tercatat 3,19 persen.
“Nah, jadi pada saat kita kemarin juga menentukan kenapa BI nggak naikkan suku bunga kita, karena melihat bahwa anchor kita itu inflasi. Saat ini kami masih merasa nyaman dengan inflasi saat ini. Apalagi kita lihat core inflation itu masih di sekitar 2 persenan. Bahwa core headline inflation akhirnya mencapai 3,19 persen,” tutur Destry
Dia mengungkapkan, kajian internal BI menunjukkan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 0,1 persen.
Dengan mempertimbangkan dampak tersebut, BI memilih mengoptimalkan bauran kebijakan lain yang lebih terarah untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong arus modal masuk (capital inflow).
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memberikan insentif biaya lindung nilai (hedging) bagi investor. Menurut Destry, pendekatan tersebut lebih terarah karena hanya memengaruhi investor yang akan masuk ke pasar domestik, tanpa memberikan dampak luas seperti kenaikan suku bunga.
“Karena kalau naikin BI itu dampaknya langsung kena semuanya. Tapi kalau kita bermain targeted seperti yang kita lakukan untuk insentif itu, dampaknya kan hanya kepada investor yang akan masuk, di mana dia akan mendapatkan margin cost yang lebih murah,” katanya.
(DESI ANGRIANI)