BANKING

BI Perkuat Insentif Pasar Uang, Tingkatkan Daya Tarik Dana Asing untuk Bentengi Rupiah

Rohman Wibowo 23/10/2026 12:42 WIB

BI memperkuat strategi insentif instrumen DNDF untuk meningkatkan daya tarik penempatan modal asing di aset keuangan domestik.

BI Perkuat Insentif Pasar Uang, Tingkatkan Daya Tarik Dana Asing untuk Bentengi Rupiah. (Foto Rohman W/IMG)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi insentif instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk meningkatkan daya tarik penempatan modal asing di aset keuangan domestik.

Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global, sekaligus melengkapi keputusan dewan gubernur yang mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75 persen.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar menekankan soal penguatan instrumen lindung nilai valuta asing tersebut diarahkan untuk mengunci aliran dana luar negeri agar tetap bertahan di pasar finansial dalam negeri.

Otoritas moneter menilai ketersediaan instrumen pasar uang yang atraktif menjadi fondasi krusial dalam meredam tekanan eksternal terhadap mata uang garuda.

"BI memperkuat strategi insentif DNDF agar meningkatkan daya tarik penempatan modal asing di aset keuangan domestik yang akhirnya dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk melengkapi BI Rate yang tetap," kata Firman dalam diskusi media di kantor BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Langkah ini juga dirancang guna memastikan pergerakan kurs tidak merembet menjadi imported inflation yang dapat mengikis daya beli masyarakat. Firman menerangkan, penguatan insentif likuiditas valas tersebut diposisikan sebagai instrumen pendukung kebijakan suku bunga, bukan sebagai pengganti arah bauran moneter utama.

"Strategi insentif ini merupakan komplementer BI Rate dalam menjaga inflasi agar tetap sesuai target, tidak sebagai substitusi BI Rate," ujar Firman.

Keputusan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen sendiri berpijak pada prospek inflasi domestik yang masih berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Meski demikian, BI terus mencermati dinamika kurs akibat guncangan pasar keuangan global yang berpotensi mengganggu laju pencapaian target tersebut. 

Sejauh ini perkembangan nilai tukar dinilai masih terkendali lantaran belum berdampak langsung terhadap realisasi inflasi, meski pengendalian kurs tetap menjadi prioritas utama bank sentral.

Untuk mengantisipasi dinamika pasar uang internasional yang rentan berfluktuasi, kata Firman, otoritas moneter bersiap mengkalibrasi seluruh instrumen yang dimiliki. Pendekatan terukur terus disiapkan untuk membentengi ketahanan sektor eksternal tanpa mengorbankan laju aktivitas usaha di dalam negeri.

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati prospek perekonomian dan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna konsisten menjaga stabilitas perekonomian yang akhirnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," ujar Firman.

(Dhera Arizona)

SHARE