BANKING

AAJI Sebut Klaim Asuransi Akibat Bencana NTT Hanya Rp152,2 Juta

Anggie Ariesta 20/10/2026 01:00 WIB

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total pembayaran klaim asuransi jiwa akibat bencana gempa bumi di NTT hanya mencapai Rp152,2 juta.

AAJI mencatat total pembayaran klaim asuransi jiwa akibat bencana gempa bumi di NTT hanya mencapai Rp152,2 juta. (Foto: Ist)

IDXChannel - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total pembayaran klaim asuransi jiwa akibat bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) hanya mencapai Rp152,2 juta per Agustus 2026. Angka pembayaran klaim tersebut tergolong minim dan mencerminkan terbatasnya penetrasi serta literasi asuransi masyarakat di wilayah tersebut.

Kepala Departemen Marketing AAJI, Karin Zulkarnaen mengungkapkan, bahwa skala dampak bencana di lapangan sesungguhnya sangat masif. Namun, tingkat kepemilikan polis proteksi jiwa di NTT masih tergolong rendah.

"Tapi sebetulnya yang bisa diklaim untuk kejadian gempa di bulan Agustus ini sebetulnya hanya Rp152,2 juta saja. Artinya jumlah masyarakat yang sudah tercover oleh asuransi jiwa itu masih sangat sedikit yang di NTT, ini yang menjadi perhatian kita semua di AAJI," kata Karin dalam acara Media Briefing & Simbolis Penyerahan Donasi Program ISR “Kebaikan Berkelanjutan” NTT di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Padahal, dari 29 perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI yang telah beroperasi di NTT, total nilai pertanggungan yang disiapkan menembus Rp16,3 triliun. Jumlah tersebut terbagi atas Rp11,8 triliun untuk lini bisnis asuransi jiwa serta Rp4,5 triliun untuk lini bisnis asuransi kesehatan.

"Kok cuma sedikit? Jadi memang mungkin penetrasi asuransi di NTT itu tidak banyak. Itu jadi PR kita semua juga, bagi AAJI maupun perusahaan-perusahaan anggota," ujar dia.

Karin lebih lanjut menekankan pentingnya pembenahan edukasi dan literasi keuangan. Bencana alam, kata dia, terbukti memberi guncangan perekonomian yang berat bagi keluarga terdampak, mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga terhentinya mata pencaharian.

"Banyak masyarakat yang terdampak dari pekerjaannya apapun itu di lokasi masing-masing. Itu sangat berpengaruh kepada rencana-rencana yang mungkin awalnya sudah dimiliki oleh berbagai keluarga. Banyak pekerjaan yang tidak lagi ada sekarang karena kerusakan-kerusakan. Tempat tinggal yang harusnya itu bisa melindungi keluarga belum tentu masih ada sekarang," tuturnya.

Karin menggarisbawahi bahwa kepemilikan asuransi jiwa dan kesehatan berfungsi penting sebagai instrumen jaring pengaman finansial saat risiko tak terduga datang menghampiri.

"Kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan kejadian seperti ini. Tapi apa yang kita dilakukan adalah menyiapkan keadaan finansial kita sehingga kejadian, bisa terbantu oleh polis asuransi untuk menjadi bumper (pengaman)," katanya.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE